SI LaNi DuDuls
Profile :
Tentang gw? gw ya gini-gini aja.
Seorang Mahasiswi jurusan Jurnalistik dengan segala deadline tugas yang jahanam.
Mengurusi 3 kponakan dahsyat.
Punya hobi ngunyah es batu.

Cari gw di...
FACEBOOK
TWITTER



Ngobrol :
Mau Follow blog ini? Mari...mari... :D

FOLLOW THIS BLOG!!!

Terimakasih udah mampir.
Ayo tinggalkan jejak di sini
Jangan lupa pake link
Nanti aku kunjungi balik :)








Cekidot!!!
Berita Lingkungan Hidup Selasa, Agustus 12, 2008 15.12

25 Tahun Lagi Indonesia Akan Kehilangan Hutan

Jakarta, 7 Agustus 2008

Jika masyarakat dan pemerintah tidak memelihara hutan sekitar 25 tahun lagi Indonesia akan kehilangan hutannya yang tinggal 28% persen. Itulah yang dikatakan Didit Haryo Team Leader Forest Defender Indonesia (FDI) Greenpeace Indonesia, saat ditemui di kantor Greenpeace di Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (31/07).

“Setiap menit Indonesia kehilangan hutan seluas 6 kali lapangan sepak bola”, ucapnya. Pengundulan hutan yang terjadi menyumbang 1/5 dari jumlah keseluruhan emisi gas rumah kaca yang mendorong terjadinya perubahan iklim dunia, yang akan menyebabkan kekeringan berkepanjangan, banjir yang meluas dan naiknya air laut.

Menurut Didit, kerusakan hutan disebabkan industri kelapa sawit yang selalu memperluas areal perkebunannya merupakan masalah terbesar di Indonesia.

Selain itu kegiatan penebangan hutan skala besar oleh perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk industri kertas, kebakaran hutan, dan praktek-praktek penebangan illegal juga turut andil.

“Sebenarnya kita tidak memusuhi industri kelapa sawit karena kita masih memerlukan produk-produk kelapa sawit untuk kehidupan sehari-hari, tetapi jangan melewati batas,” tegasnya.

Lebih lanjut Didit mengatakan hutan gambut merupakan cadangan penyimpan karbon yang sangat besar. Sayangnya saat ini hutan gambut mengalamai ancaman yang sangat serius karena perluasan perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran.

“Untuk perluasan perkebunan kelapa sawit biasanya membakar lahan gambut untuk dikeringkan, proses pengeringan inilah yang berbahaya. Setelah lahan dibakar gambut lalu dibuat kanal agar air keluar, air tersebut bersifat asam dan melepaskan banyak CO2 ke udara,” jelasnya.

Melalui fakta tersebut Greenpeace mencoba mengajak para pengusaha kelapa sawit untuk mendukung penghentian sementara (moratorium) konversi hutan dan lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit.

Langkah nyata yang dilakukan Greenpeace dalam menerapkan moratorium lahan gambut dengan meluncurkan Kamp Pembela Hutan atau Forest Defender Camp (FDC) pada Oktober hingga Desember tahun lalu di Riau.

“Selama beberapa bulan di sana para volunteer (sukarelawan-red) melakukan berbagai kegiatan upaya menyelamatkan hutan dan iklim,” katanya. Didit memaparkan bahwa para sukarelawan Greenpeace dibantu warga setempat di Riau, mendokumentasikan pembabatan hutan gambut, pengamatan dan pemadaman api, meneliti keadaan hutan gambut, serta survei keanekaragaman hayati.

“Kami mengamati, mengumpulkan fakta lalu semua bukti kami berikan kepada pihak pemerintah yang berwenang,” jelasnya. Hasil yang didapatkan dari kegiatan FDC, perusahaan kelapa sawit Duta Palma menjadi lebih peduli terhadap moratorium.

“Kami menyambut baik niat dari presiden yang mengatakan untuk menekan penggundulan hutan pada 2015,” ucapnya.

Visi dan misi FDI 2008 salah satunya adalah Zero Deforestsation atau menyetop kerusakan hutan. “Tahun ini kami mencoba lebih mengajak pemuda dan masyarakat Indonesia untuk lebih peduli terhadap hutan untuk mengurang penggundulan hutan dengan cara sederhana yaitu menanam pohon,” kata dia.

“Greenpeace mengajak masyarakat Indonesia untuk menuntut Pemerintah segera menerapkan penghentian sementara (moratorium) atas seluruh kegiatan konversi hutan, merehabilitasi lahan gambut, menghentikan konversi lahan gambut untuk industri kertas dan kelapa sawit,” ungkap Didit yang sudah 2 tahun menjadi volunteer Greenpeace itu.

Mau Comments? Klik di sini :D (2)